Religi
Trending

Shalat Dulu atau Makan Dulu? Berikut Penjelasan Selengkapnya

JAKARTA – Jika ada yang bertanya, sebaiknya lebih baik makan dulu atau shalat dulu? Maka jawaban yang umum untuk meningkatkan kekhusyukan sholat adalah dengan mendahulukan makan. Namun, tidak hanya kekhusyukan shalat, manfaat mendahulukan makan sebelum shalat ternyata ada kaitannya dengan kesehatan, lho..

Shalat sudah menjadi kewajiban ibadah umat muslim, sedangkan makan merupakan aktivitas manusiawi yang juga bisa bernilai ibadah. Bagi umat Islam, semboyan yang perlu ditegaskan tidak hanya ‘makan untuk hidup’ tetapi juga ‘makan agar kuat beribadah’.

Ketika aktivitas makan dan shalat kebetulan berdampingan, maka umat Islam bisa memilih. Pilihan shalat dulu atau makan dulu tentunya tergantung kepada masing-masing individu. Beberapa alasan mendahulukan makan sebelum shalat ternyata menarik untuk dicermati karena ada di kitab tentang pengobatan nabi yang ditulis oleh ulama Islam.

Salah satu kesehatan saluran cerna ditentukan oleh proses pembuangan sisa-sisa makanan. Tubuh akan sehat, apabila proses pembuangan isi saluran cerna berlangsung dengan lancar. Sebaliknya apabila pengeluaran zat-zat sisa makanan dari dalam tubuh terganggu, maka berbagai resiko akan muncul. Namun, dengan upaya meneladani kebiasaan yang baik maka keseimbangan yang menyehatkan saluran cerna dapat dicapai.

Salah satu alasan mendahulukan makan sebelum shalat adalah anjuran Rasulullah. Al-Hafiz Adz-Dzahabi menyebutkan sebuah hadits dalam kitab Thibbun Nabawi sebagai berikut:

وقدتقدم قوله عليه الصلاة والسلام: أَذِيبُوا طَعَامَكُمْ بِالذِّكْرِوَالْكَلَامِ عَلَيْهِ

“Kami telah mengutip hadits Nabi saw, cernalah makananmu dengan menyebut nama Allah dan dengan pembicaraan/kalam tentang-Nya.” (Thibb An-Nabawi Al-Hafidz Adz-Dzahabi, Dar Ihyaul Ulum, Beirut, 1990: halaman 284)

Berdasarkan hadits tersebut, shalat salah satu ibadah yang bisa dilakukan setelah makan karena di dalamnya mengandung banyak dzikir dan do’a. Dzikir dalam shalat akan membantu pencernaan makanan. Apabila seorang muslim yang telah makan kemudian shalat, maka akan sangat baik bagi kesehatan saluran pencernaan. Dalam bagian lain kitabnya, al-Hafiz Adz-Dzahabi menjelaskan hadits serupa yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim sebagai berikut:

أَذِيبُوا طَعَامَكُمْ بِالذِّكْرِاللهِ والصَّلاَةِ، وَلاَ تَنَامُوا عَلَيْهِ فَتَقْسُو قُلُوبُكُمْ، وَلاَتُكْثِرُوا مِنَ الْحَرَكَةِ عَلَيْهِ فَتُضَرُّوا، وَلاَتَتْرُكُواالْعَشَاءَ فَتَهْرَمُوا. رواه أبونعيم

“Kunyahlah makananmu dengan menyebut nama Allah dan disertai shalat. Janganlah kalian tidur langsung setelah makan sebab hal itu akan membuat hati menjadi keras. Setelah makan janganlah melakukan olahraga berat sebab hal itu berbahaya. Jangan membiasakan diri tidak makan malam sebab hal itu membuat orang cepat tua.” (Thibb An-Nabawi Al-Hafiz Adz-Dzahabi, Dar Ihyaul Ulum, Beirut, 1990: halaman 38)

Dalam hadits di atas, disebutkan bahwa selain berzikir menyebut nama Allah, proses pencernaan makanan dengan mengunyah juga disarankan untuk disertai dengan shalat. Namun, hal itu bukan berarti dilakukan secara bersamaan. Oleh karena itu, pilihan untuk melaksanakan anjuran ini adalah melaksanakan shalat setelah makan. Shalat dengan gerakan sujud juga merupakan salah satu sebab sehatnya saluran pencernaan. Secara spesifik, al-Hafiz adz-Dzahabi menjelaskan tentang manfaat sujud sebagai berikut:

وما أشد إعانة السجود على فتح سدة المنخرين، وما أقوى معاونة السجود على تعفن الأخبثين وحدر الطعا م عن المدة والأمعاء، وتحريك الفضول المحتقنة فيها وإخراجها، إذ عنده تنعصر أوعية الغذاء بازدحامها، وتساقط بعضها على بعض.

“Betapa bersujud itu menguntungkan dalam membantu ketidakmurnian dengan melancarkan jalan sisa makanan dari perut ke usus besar dan dalam menggerakkan sampah bersamanya hingga ia terusir, sebab dalam perut-perut tertentu ada gundukan makanan dan satu makanan jatuh ke atas makanan yang dimakan sebelumnya.” (Thibb An-Nabawi Al-Hafiz Adz-Dzahabi, Dar Ihyaul Ulum, Beirut, 1990: halaman 283)

Penjelasan itu menunjukkan bahwa pembuangan sisa-sisa makanan dari usus besar akan lancar dan terbantu dengan aktivitas sujud. Bila shalat dilakukan setelah makan, gerakan usus untuk mendorong sisa-sisa makanan sebelumnya ke ujung usus besar akan didukung dengan gerakan sujud dalam shalat. Oleh karena itu, orang yang rutin melaksanakan shalat setelah makan akan terhindar dari resiko sembelit.

Islam sebagai ajaran yang sempurna selalu memberikan berbagai manfaat, termasuk manfaat kesehatan dari ibadah shalat. Selain mendapatkan pahala yang besar, Insyaallah kesehatan saluran pencernaan juga akan semakin terjaga. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button