Pilkada

4 Paslon Ungkapkan Visi dan Misi di Debat Perdana Pilgub Jabar

Sumber: Dokumentasi MBKPOS/Lucky Mardinsyah

BANDUNG – Empat pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat—Acep Adang Ruchiat-Gitalis Dwi Natarina, Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja, Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie, dan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan—memaparkan visi dan misi mereka dalam debat perdana Pilgub Jabar. Debat yang berlangsung pada Senin malam di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran, Bandung.

Pasangan nomor urut 1, Acep-Gita, menyampaikan visi “Jabar Bahagia Lahir Batin,” yang berfokus pada keseimbangan antara kesejahteraan fisik dan spiritual melalui falsafah Sunda (cageur, bageur, bener, pinter, singer) untuk membentuk sumber daya manusia berkarakter.

“Visi ini merujuk pada falsafah Sunda yaitu cageur, bageur, bener, pinter, dan singer dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan berkarakter,” kata Acep Adang di lokasi debat.

Pasangan nomor urut 1 mengusung Misi dalam membahagiakan seluruh Jawa Barat tanpa terkecuali yakni menciptakan kondisi bahagia hidup dalam nilai pancasila; menciptakan masyarakat yang berdaya saing, berbudaya, aman, dan sejahtera; membangun lingkungan hidup yang lestari bagi generasi masa depan; menciptakan ekonomi yang adil dan produktif bagi semua lapisan masyarakat.

Kemudian membangun pemerintahan yang bersih, inovatif, dan melayani masyarakat; menciptakan harmoni dalam kebijakan, harmoni dalam keberlanjutan dan harmoni dalam keadilan untuk semua.

Pasangan nomor urut 2, Jeje-Ronal, menekankan pentingnya koordinasi antara provinsi dan kabupaten/kota di Jawa Barat untuk menghadapi isu kemiskinan dan pengangguran yang beragam. Mereka berencana mengintensifkan komunikasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan program pembangunan sesuai kebutuhan daerah.

“Ini ruang koordinasi dan komunikasi antara Provinsi Jawa Barat dengan kabupaten kota yang harus dibuka seluas-luasnya, harus jadi kesatuan yang utuh untuk menempatkan akses pembangunan dengan segala dinamikanya. Kalau kami jadi, kami akan turun ke kabupaten kota berkoordinasi konsep sehingga ketepatan kebijakan akan berjalan dengan baik,” ujar Jeje Wiradinata.

Pasangan nomor urut 3, Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie, memiliki visi “Jawa Barat Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh,” yang berfokus pada kolaborasi dengan pemerintah pusat. Mereka bercita-cita menjadikan “Indonesia Emas” dimulai dari “Jawa Barat Emas.” Ilham juga menekankan pentingnya teknologi serta iman dalam pembangunan daerah.

“Kami ingin berkolaborasi dengan pemerintah pusat. Obsesi kami Indonesia emas akan dimulai dari Jawa Barat emas Oleh karena itu kami akan tegak lurus dengan pemerintahan Prabowo Subianto,” ujar Syaikhu. Ilham menceritakan pengalaman kehidupannya yang memiliki pendidikan dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi di Jerman, namun sekarang mengikhtiarkan diri di Jawa Barat.

“Saya juga mengenakan dua jam tangan kiri itu mengenang bapak yang meninggal mengenakan ini, yang kanan itu punya saya sendiri. Jadi ini adalah teknologi serta iman dan taqwa kita ingin membangun Jabar dengan itu,” kata Ilham Habibie menambahkan.

Pasangan nomor urut 4, Dedi-Erwan, mengusung konsep “Jawa Barat Istimewa” untuk mencapai kemuliaan provinsi. Visi ini didukung oleh empat kerangka dasar: peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan ekonomi yang adil, birokrasi produktif, dan infrastruktur terpadu yang menjangkau desa hingga kota untuk mengurangi ketimpangan pembangunan.

“Maka isi pembangunan Jawa Barat istimewa adalah meletakkan kerangka dasar bahwa tanah ini harus dimuliakan oleh pemimpin dan rakyatnya dengan empat kerangka dasar yang akan kami kembangkan untuk membangun Jawa Barat,” kata Dedi.

Empat kerangka dasar itu adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan mengintegrasikan pendidikan dari mulai TK sampai perguruan tinggi untuk mewujudkan manusia (pancawaluya cageur, bageur, bener, pinter, singer) yang baik.

Yang kedua, meningkatkan kerangka ekonomi yang memiliki nilai-nilai investasi dan keadilan mendorong sektor ekonomi kerakyatan dengan membangun ekosistem ekonomi pedesaan dan perkotaan. Ketiga, membangun postur birokrasi yang kuat yang berfungsi melayani dan produktif.

“Keempat meningkatkan infrastruktur yang terintegrasi dari mulai desa sampai kota sehingga terhindar dari disparitas pembangunan antara utara dan selatan desa dan kota yang pada akhirnya pembangunan ini bisa mewujudkan masyarakat yang gemah ripah repeh rapih,” tutur Dedi.

Debat yang berlangsung selama 120 menit ini membahas tujuh sub tema: Kesehatan dan Penurunan Stunting, Mentalitas dan Karakter Generasi Muda, Kemiskinan dan Pengangguran, Pengembangan Digital Talent, Reformasi Birokrasi, Isu Perempuan dan Anak, serta Pendidikan Inklusif. Setiap pasangan calon memiliki waktu terbatas, antara 45 detik hingga dua menit, untuk menyampaikan dan menanggapi paparan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button