Hukum

Kementerian Komdigi Pecat 10 Pegawai Terkait Judi Online, Sampaikan Permohonan Maaf

Sumber: Instagram @meutya_hafiz

JAKARTA – Kasus keterlibatan pegawai Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam judi online kini memasuki tahap baru. Kementerian Komdigi telah memecat 10 pegawai yang ditangkap karena terlibat dalam praktik judi online.

“10 sudah diberhentikan,” ujar Menteri Komdigi Meutya Hafid kepada wartawan di kantornya, Kamis (14/11/2024).

Ia memilih untuk tidak memberikan komentar lebih lanjut dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak berwenang.

Peran 10 pegawai Kementerian Komdigi

Sebelumnya, Subdit Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menangkap 17 orang terkait perkara judi online.

Dari jumlah tersebut, 10 tersangka merupakan pegawai Kementerian Komunikasi dan Digital, yang sebelumnya dikenal sebagai Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Tujuh tersangka lainnya adalah warga sipil.

Ironisnya, Kementerian Komdigi, yang bertugas memblokir situs judi online, justru memiliki sejumlah pegawai yang memanfaatkan wewenang mereka untuk keuntungan pribadi. Para tersangka diketahui melindungi ribuan situs judi online dari sebuah kantor satelit di Jakasetia, Bekasi Selatan.

Polisi telah menggeledah kantor tersebut, kantor pusat Komdigi, serta dua lokasi penukaran uang (money changer) pada Jumat (1/11/2024).

Kantor satelit itu dikelola oleh tiga tersangka berinisial AK, AJ, dan A, yang melindungi situs-situs judi online dengan imbalan pembayaran rutin setiap dua minggu sekali.

Menteri Meutya Hafid Minta Maaf

Dalam kunjungan kerja di Kelurahan Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara, pada Selasa (12/11/2024), Meutya Hafid meminta maaf kepada masyarakat atas keterlibatan pegawai Komdigi dalam kasus ini. Ia mengaku sangat terpukul dengan kejadian tersebut.

“Saya juga minta maaf Bapak, Ibu, bahwa dari kantor kami kemudian ada yang terlibat. Sedihnya luar biasa. Karena saya seperti ibunya dari kantor itu,” ujar Meutya di depan masyarakat.

Ia juga mengakui masih adanya kelemahan dalam birokrasi Komdigi. Kasus ini menjadi pelajaran penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kementerian. Meutya berjanji akan melakukan reformasi internal agar kasus serupa tidak terulang di masa mendatang.

Meutya juga mengajak para ibu rumah tangga untuk memantau potensi judi online dalam lingkup keluarga mereka.

“Makanya saya minta ibu-ibu, alat saja itu secanggih apa pun sebersih apa pun, alat pengawasan tidak akan cukup. Karena kami enggak bisa menjangkau rumah-rumah tangga,” ujarnya.

“Ibu rumah tangga ini paling banyak merasakan, suaminya terpapar judi online, mereka merasakan (beli) susu anaknya enggak cukup (uang), makanan enggak cukup,” sambungnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button