Parlemen

Komisi X Minta Kemenag dan Kemendikdasmen Diskusikan Libur Sekolah Sebulan Saat Ramadan

Sumber foto: Unsplash

JAKARTA – Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama (Kemenag), berencana untuk meliburkan siswa sekolah selama bulan Ramadan.

Meskipun keputusan ini belum dipastikan, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah memberikan respons terhadap wacana tersebut.

Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad Alaydrus, menanggapi rencana libur Ramadan selama sebulan penuh.

Dia meminta agar Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) duduk bersama untuk membahas lebih lanjut rencana ini.

Syarief mengungkapkan bahwa rencana libur selama Ramadhan sebulan penuh adalah hal yang baik, asalkan tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan bagi para siswa menjalankan ibadah dengan optimal sehingga bisa meningkatkan sisi spiritualitas mereka.

“Tujuan libur selama Ramadan sangat baik. Para siswa kita bisa fokus ibadah dan belajar agama. Kami mendukung rencana itu,” ungkap Habib Syarief

Menurutnya, rencana libur selama Ramadan tersebut harus dimatangkan, karena Ramadan hanya tinggal dua bulan lagi. Kemenag dan Kemendikdasmen perlu duduk bersama untuk membahas rencana ini agar program tersebut bisa terlaksana dengan baik.

Hingga saat ini, lanjut Syarief, belum ada format yang jelas terkait libur selama Ramadan.

“Masih banyak pertanyaan yang muncul, misalnya, apakah semua kegiatan sekolah diliburkan, sehingga tidak ada kegiatan sama sekali selama Ramadan? Atau meliburkan pembelajaran formal dan diganti dengan pembelajaran keagamaan?,” ujarnya.

Dia juga menambahkan bahwa jika anak-anak fokus belajar agama dan beribadah, format yang akan dilaksanakan harus jelas.

“Apakah sekolah masing-masing yang mengadakan kegiatan Ramadhan atau diserahkan kepada orangtua secara penuh? Pertanyaan-pertanyaan itu yang harus dijawab, sehingga sekolah dan orangtua siswa tidak bingung dan bertanya-tanya lagi,” ungkap Politisi Fraksi PKB ini.

Sebab, kata Habib Syarief, Habib Syarief juga mengingatkan bahwa jika kegiatan selama Ramadhan diserahkan sepenuhnya kepada orangtua, mereka akan kesulitan mengaturnya, terutama jika kedua orangtua bekerja. Bahkan, meskipun salah satu orangtua tidak bekerja, mereka tetap akan kesulitan.

“Kalau anak-anak mengisi liburan Ramadan hanya di rumah, maka mereka akan cepat bosan. Orangtua pun akan kesulitan mengatur kebosanan anak selama Ramadan. Dikhawatirkan anak-anak akan semakin sering bermain gawai di rumah,” paparnya. (YK/dbs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button