Ekonomi

Kemenangan Trump di Pilpres AS Picu Potensi Pelemahan Rupiah

Sumber Foto: Antara

 

BANDUNG – Rupiah diperkirakan akan mengalami terkanan dalam waktu dekat kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat (Pilpres AS). Kemenangan tersebut menciptakan ketidakpastian di pasar global yang dapat mempengaruhi nilai tukar mata uang, termasuk rupiah.

Investor dan pelaku pasar kini akan lebih berhati-hati mengantisipasi dampak kebijakan ekonomi yang mungkin diambil oleh Trump, yang dapat memperburuk sentimen resiko global dan mempengaruhi aliran modal asing ke Indonesia.

Perry menyatakan bahwa jika Trump kembali menjadi Presiden AS, salah satu potensi ekonomi yang mungkin terjadi adalah penguatan dolar AS yang berlanjut, seiring dengan kembalinya tren peningkatan suku bunga acuan bank sentral AS, Fed Fund Rate.

“Mata uang dolar akan kuat, suku bunga AS akan tetap tinggi, dan tentu saja perang dagang juga masih berlanjut,” kata Perry.

Ia menjelaskan bahwa berbagai masalah tersebut pasti akan berdampak langsung pada perekonomian negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, ia memperkirakan nilai tukar rupiah bisa melemah di masa depan, dan aliran modal asing akan semakin terbatas.

“Dinamika ini yang akan berdampak ke seluruh negara khusunya emerging market, termasuk Indonesia, yaitu satu, tekanan-tekanan terhadap nilai tukar, kedua, arus modal, dan ketiga bagaimana ini berpengaruh kepada dinamika ketidakpastiandi pasar keuangan,” pungkasnya.

Untuk mengatasi potensi risiko akibat kemenangan Trump dalam Pilpres AS, Perry menyampaikan bahwa BI, bersama pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), akan tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan, sembari mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Ini yang kemudian kita harus respons secara hati-hati, Bank Indonesia untuk itu terus menyampaikan komitmen kami menjaga stabilitas dan turun dukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, bersinergi erat dengan pemerintah dan KSSK,” ujar Perry.

Seperti yang telah diketahui, Trump yang didukung oleh Partai Republik memenangkan electoral college dengan meraih 230 suara, sementara Kamala yang didukung oleh Partai Demokrat memperoleh sekitar 210 suara.

Seperti yang diberitakan Antara, Ariston Tjendra, Pengamat pasar uang mengayakan bahwa kebiijakan Trump sebagai presiden di masa lalu yang memicu perang dagang, akan terjadi lagi di masa pemerintahannya yang akan ia pimpin di masa yang akan datang, sehingga pasar cenderung mengantisipasi dan mendorong penguatan dolar AS.

“Sentimen mungkin bisa berlanjut hari ini, apalagi pasar juga menunggu hasil rapat kebijakan moneter AS dini hari nanti, jadi konsolidasi masih akan terjadi sehingga kemungkinan dolar AS masih menguat dan rupiah bisa tertekan,” ujar Ariston.

Ariston menyampaikan bahwa rupiah berpotensi melemah hari ini, bergerak menuju Rp15.880 hingga Rp15.900 per dolar AS, dengan level support yang kemungkinan berada di Rp15.800 per dolar AS.

Di awal perdagangan Kamis, rupiah menguat 24 poin atau, 0,15 persen per dolar AS, dibandingkan dengan posisi sebelumnya di Rp15.833 per dolar AS.(ka/dbs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button