Talkshow Vokasi Vaganza: Empati dan Strategi Hadapi Tantangan Gen Z di Dunia Kerja

BANDUNG – Talkshow bertema “Peluang dan Tantangan Gen Z di Dunia Kerja dan Usaha” menjadi salah satu sesi yang menarik perhatian dalam rangkaian acara Vokasi Vaganza yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bandung pada Sabtu (7/12/2024).
Acara ini menghadirkan narasumber dari berbagai bidang, termasuk praktisi HRD, praktisi usaha, dan perwakilan dari Bank Mandiri, yang berbagi pandangan dan pengalaman mereka dalam menghadapi tantangan generasi muda di dunia kerja.
Salah satu pemateri kedua Henny Inniawan, menyoroti pendekatan yang harus dilakukan terhadap Gen Z, yang dikenal sebagai generasi dengan karakter super moody dan seringkali sensitif.
“Saya selalu menempatkan karyawan sebagai teman kerja. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah memahami permasalahan mereka. Terkadang, masalah mereka bersumber dari keluarga atau pengalaman masa kecil, seperti bullying, yang memengaruhi sensitivitas mereka,” ungkap Henny.
Henny menambahkan bahwa tidak semua karyawan dapat diperlakukan sama. “Pendekatan harus berbeda, terutama jika ada karyawan dengan phobia tertentu atau karakter yang sensitif. Kita perlu membangun empati, bukan hanya simpati, untuk menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan mendukung,” tambahnya.
Dalam sesi ini, Henny juga berbagi pengalamannya dalam menganalisis kesehatan mental karyawan. “Kami melakukan asesmen kepada lebih dari 8.000 siswa untuk memahami kesehatan mental mereka. Dari situ, kami bisa menentukan cara pendekatan yang tepat untuk setiap individu, sehingga mereka merasa dihargai dan didukung,” katanya.
Talkshow ini tidak hanya memberikan wawasan tentang pentingnya empati dalam dunia kerja, tetapi juga menjadi forum diskusi tentang bagaimana Gen Z dapat mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia kerja dan usaha. Dengan memahami karakter dan kebutuhan generasi muda, perusahaan diharapkan dapat menciptakan budaya kerja yang lebih inklusif dan produktif.
Acara ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kompetensi teknis perlu diseimbangkan dengan pemahaman psikologis dan sosial untuk membangun tenaga kerja yang unggul di masa depan.






