5 Amalan Sunnah Agar Dimudahkan Sakaratul Maut

JAKARTA – Rahasia jatah usia di dunia adalah salah satu nikmat Allah bagi hamba-hamba-Nya. Bayangkan bila setiap manusia lahir membawa catatan usia, tentu tidak akan sanggup beraktivitas sebagaimana umumnya. Nikmat lain yang diperuntukkan manusia yaitu kesempurnaan penciptaan sebagaimana terdapat dalam surah At-Tin;
لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ثُمَّ رَدَدۡنَٰهُ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ
Artinya: “Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” (QS. At-Tin 95: 4-5).
Pada titik terlemah ketika seseorang menderita sakit, hanya terdapat dua kemungkinan, meninggal dunia atau sembuh. Pada kondisi inilah harus mempersiapkan diri agar menemui akhir hayat dalam keadaan yang husnul khatimah. Untuk mencapai ini, Rasulullah mencontohkan berbagai amalan dan doa dalam sakit yang menyebabkan wafat beliau.
Diriwayatkan dalam kitab at-Turmudzi dan Sunan Ibn Majjah, dari Sayyidah ‘Aisyah radliallahu ‘anha, ia berkata, “Saya melihat Rasulullah dalam sakitnya (menjelang kematian) mengambil wadah berisi air kemudian memasukkan tangan ke dalamnya, dan mengusapkan ke wajah seraya berdoa;
اللهم أَعِنِّيْ عَلَى غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَسَكَرَاتِ الْمَوْتِ
Artinya: “Ya Allah tolonglah aku dalam menghadapi sakaratul maut”
Dalam hadits yang lain, sayyidah ‘Aisyah menceritakan, “(dalam sandaranku) saya mendengar Rasulullah membaca doa:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَأَلْحِقْنِيْ بِالرَّفِيْقِ اْلأَعْلَى
Artinya: “Ya Allah, ampuni, rahmati, dan pertemukan aku dengan Kekasih Yang Maha Tinggi.” Syekh Nawawi dalam kitab al-Adzkar, باب ما يقوله من أيس من حياته.
Terdapat berbagai kebaikan yang bisa dilakukan seseorang menjelang ajalnya, yaitu;
- Disunnahkan bagi orang yang sedang sakit menjelang kematian untuk memperbanyak rasa syukur kepada Allah, baik melalui hati maupun lisan. Ia harus menyadari bahwa waktunya di dunia hampir selesai dan mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan segera menyelesaikan hak-hak antar sesama, seperti dalam hubungan keluarga, pertemanan, dan tetangga.
- Disunnahkan untuk meninggalkan wasiat terkait urusan anak-anak dan utang piutang. Orang tersebut juga harus berprasangka baik kepada Allah, penuh rendah hati, serta berharap ampunan dan rahmat dari-Nya. Dengan berdasarkan hadits nabi saw:
إن من أبر البر أن يصل الرجل أهل ود أبيه
Artinya: “Sesungguhnya sebaik-baik kebaikan adalah seorang laki-laki yang menyambung hubungan baik dengan teman-teman bapaknya.”
- Disunnahkan memperbanyak membaca atau mendengarkan bacaan Al-Qur’an, hadits, dan kisah-kisah orang saleh saat menghadapi kematian. Selain itu, ia sebaiknya terus menjaga shalat, menjauhi najis, dan konsisten dalam mengamalkan ajaran agama. Merujuk hadits nabi dalam Sunan Abi Dawud dan lainnya:
من كان أخر كلامه لااله الا الله دخل الجنة
Artinya: “Barangsiapa akhir perkataannya laa ilaaha illallah, maka ia akan masuk surga.”
- Berwasiat kepada keluarga agar bersabar menghadapi penyakit dan musibah sangat penting, serta menjauhi perilaku meratap yang dilarang dalam agama, seperti menangis berlebihan, merobek baju, atau memukul pipi.
ولا بأس بالبكاء على الميت من غير نوح ولا شق جيب ولا ضرب خد
Artinya: “Tidak mengapa menangisi jenazah tanpa meratap, merobek kantong, dan memukul pipi.” (Taqiyyuddin Abu Bakar Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 137-138).
Dikatakan juga dalam hadits Nabi saw:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يكرم صواحبات خديجة رضي الله هنها بعد وفاتها
Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah saw tetap memuliakan sahabat-sahabat Sayyidah Khadijah setelah wafatnya.”






